Pages

Labels

Tampilkan postingan dengan label Sejarah Kutai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Kutai. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Desember 2017

SILSILAH RAJA-RAJA KUTAI KARTANEGARA

  1. Aji Batara Agung Dewa Sakti                         (1300-1325)
  2. Aji Batara Agung Paduka Nira                       (1325-1360) 
  3.  Aji Maharaja Sultan                                        (1360-1420)
  4. Aji Raja Mandarsyah                                       (1420-1475)
  5. Aji Pangeran Temenggung Baya-Baya           (1475-1525)
  6. Aji Raja Mahkota Mulia Islam                       (1525-1600)
  7. Aji Dilanggar                                                   (1600-1605)
  8. Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa               (1605-1635)
  9. Aji Pangeran Dipati Agung                             (1635-1650)
  10. Aji Pangeran Dipati Mojo Kasuma                 (1650-1686)
  11. Aji Ratu Agung                                               (1686-1700)
  12. Aji Pangeran Dipati Tua                                 (1700-1730)
  13. Aji Pangeran Dipati Anum                              (1730-1732)
  14. Sultan Aji Muhammad Idris                            (1732-1739)
  15. Sultan Aji Muhammad Muslihuddin               (1739-1782)
  16. Sultan Aji Muhammad Salehuddin                 (1782-1850)
  17. Sultan Aji Muhammad Sulaiman                    (1850-1899)
  18. Sultan Aji Muhammad Alimuddin                  (1899-1915)
  19. Sultan Aji Muhammad Parikesit                     (1915-1960)
  20. Haji Aji Muhammad Salehuddin                    (1960-Sekarang)[1] [2]



    [1] Mohammad Asli Amin. Op.cit. hlm. 125. Lihat juga “Silsilah Sultan Kutai Kartanegara”. Dalam http://kesultanan.kutaikartanegara.com. Diakses pada 16 Desember 2017 
    [2] Kesultanan kutai kartanegara dihidupkan kembali sebagai upaya pelestarian budaya. Putra mahkota kutai Haji aji pangeran praboe dinobatkan sebagai sultan dengan gelar sultan Haji Aji Muhammad Salehuddin.

SUMBER BERDIRINYA KERAJAAN KUTAI



Berdasarkan sumber-sumber sejarah yang ditemukan, kutai merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Kerajaan ini berdiri sekitar abad ke 4 Masehi. Hal itu didasarkan pada penemuan benda-benda bersejarah berupa 7 yupa (tiang batu) pada tahun 1879 dan 1940 di sekitar desa yang kini disebut Muara Kaman menunjukkan bahwa di daerah tersebut dahulu berdiri sebuah kerajaan Hindu yang sudah maju. Prasasti itu digolongkan sebagai tulisan terkuno di antara tulisan-tulisan lain yang ditemukan di Indonesia. Selain prasasti juga ditemukan sebuah kalung Cina yang terbuat dari emas, sebuah arca bulus, sebuah arca Budha dari bahan perunggu, serta sejumlah barang lainnya yang berasal dari orang Hindu. Sekitar 100 km sebelah utara Muara Kaman, di sebuah gua Gunung Kombeng, ditemukan 12 arca batu.[1]

Dari Yupa itulah terdapat tulisan-tulisan dalam bahasa sansekerta dengan menggunakan huruf pallawa yang menyatakan adanya kerajaan Indonesia tertua yang dipimpin oleh Sang Raja Mulawarman, seorang putera dari Raja Asmawarman dan merupakan cucu dari Maharaja Kudungga. Kerajaan tersebut bernama kerajaan Kutai Matadipura (Mulawarman), yang terletak di sebelah kiri mudik Sungai Mahakam dan yang sekarang berada seberang kota Muara Kaman. Para ahli sejarah menduga kerajaan Mulawarman menerima pengaruh Hindu langsung dari India, tanpa melalui Jawa. Dugaan ini berdasarkan pada teks-teks yang isinya hampir sama dengan yang terdapat di India. Seni budayanya pun berbeda dengan Jawa, seperti yang terlihat pada arca-arca di gua Gunung Kombeng.[2]

Hubungan keakraban kerajaan Mulawarman dengan India sudah terlihat sejak abad ke-4, yaitu ketika para pedagang dan bangsawan Kutai Martadipura mulai berlayar ke India Selatan hingga akhirnya mengunjungi Magadha yang menjadi pusat kebudayaan Hindu. Begitupun sebaliknya, para saudagar, bangsawan, dan pendeta Hindu dari India berdatangan ke Kutai. Selain India, Kutai juga sudah menjalin hubungan yang sangat lama dengan Cina. Hal itu dapat terlihat dari  banyaknya barang-barang buatan Cina yang ditemukan di daerah Kutai. Sedangkan hubungan kerajaan ini dengan kerajaan-kerajaan di Jawa baru berkembang lama setelah hubungannya dengan India dan Cina yang diperkirakan setelah kejayaan Kutai Martadipura mulai menurun.


[1] Soemargono dkk. Profil Provinsi Republik Indonesia Kalimantan Timur. Jakarta: Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara.1992. hlm. 13
[2] Ibid. hlm. 14
 

Blogger news

Blogroll

About