Setiap tahunnya, sanak kutai
mengadakan festival budaya yang biasa dikenal dengan sebutan Erau (sanak: warga;
bahasa kutai). Festival ini berlangsung tepatnya di kota Tenggarong, kabupaten Kutai
Kartanegara, Kalimantan Timur. Lazimnya Erau dilaksanakan pada pertengahan
bulan juli.
Istilah “Erau” berasal dari
kata “eroh” yang dalam bahasa melayu Kutai Tenggarong bermakna ramai, riuh,
ribut, suasana sukacita, suasana yang ramai, keramaian pesta ria. Makna riuh
tersebut berarti banyaknya kegiatan sekelompok orang yang memiliki hajat yang
bermakna sakral, ritual, maupun hiburan. secara umum Erau dapat diartikan
sebagai pesta rakyat.
Dahulu, Erau merupakan
hajatan besar bagi kesultanan kutai dan masyarakat di seluruh wilayah
kekuasaannya yang mayoritas kini menempati wilayah Kalimantan Timur. Erau
bermula sejak abad ke-12 dan pertama kali dilaksanakan pada upacara Tijak Tanah
dan mandi ke Tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia 5 tahun Masehi.
Setelah dewasa, Ia diangkat menjadi sultan pertama Kutai Kartanegara. Sejak
itulah Erau selalu diadakaan setiap pergantian atau penobatan raja-raja Kutai
Kartanegara.
Pada awalnya, acara ini
berlangsung selama 40 hari 40 malam dan diikuti oleh seluruh masyarakat Kutai. Tetapi,
setelah bergabungnya kesultanan kutai ke dalam wilayah Indonesia pada tahun
1960, pelaksanaan Erau sesuai tata cara kesultanan Kutai terakhir kali
berlangsung pada tahun 1965. Hal ini terjadi karena kepala pemerintahan sudah
dipegang oleh bupati yang menunjukkan bahwa segala kebijakan daerah dibuat dan
diatur sesuai dengan prinsip-prinsip pemerintahan yang tidak hanya mementingkan
kebudayaan daerah itu sendiri.
Erau baru diadakan kembali
pada tahun 1971 atas prakarsa Bupati Kutai saat itu yaitu Drs.H.Achmad Dahlan
dengan tujuan untuk pelestarian budaya. Pada saat ini, upacara Erau
dilaksanakan setiap 2 tahun sekali dalam rangka peringatan ulang tahun kota Tenggarong
yang berdiri sejak 29 september 1782. Seiring berjalannya waktu, adat Erau
dijadikan sebuah festival yang diadakan setiap tahunnya sebagai pesta budaya.
Acara-acara yang dilaksanakan
dalam festival Erau sangat beragam. Mulai dari upacara-upacara adat kesultanan Kutai
Kartanegara, pertunjukan seni dan budaya dari berbagai daerah di Kalimantan
Timur, lomba-lomba olahraga tradisional seperti lomba perahu naga, perahu
motor, dan lain sebagainya, expo, maupun pesta rakyat. Adapun upacara adat yang
biasaya dipertunjukkan dalam festival Erau adalah sebagai berikut:
2. Upacara Menjamu Benua
3. Upacara Adat Merangin
4. Upacara Adat Mendirikan Ayu
5. Upacara Adat Bepelas
Festival Erau ini biasanya
dilaksanakan selama dua minggu. Tempat yang digunakan yaitu stadion lama (Rondo
Demang) Tenggarong ataupun stadion baru (Aji Imbut) Tenggarong seberang. Selain
pertunjukan budaya kutai, Erau juga menampilkan budaya dari daerah bahkan
negara lain, sehingga Erau memiliki daya tarik hingga ke mancanegara.
Acara puncak dari festival Erau
adalah Berlimbur, berlangsung pada hari terakhir festival Erau. Belimbur yaitu
saling membasahi warga yang ada di Kota Tenggarong. Prosesi pertama dari
Berlimbur adalah menurunkan “Naga” atau Ngulur Naga ke sungai Mahakam. Masyarakat
kutai percaya bahwa pulau yang ada di tengah sungai mahakam yang dikenal dengan
Pulau Kumala itu ditopang oleh seekor Naga sehingga setiap tahunnya masyarakat
kutai harus menghormati naga tersebut dengan menurunkan “Naga” yang terbuat
dari bambu dan sudah ditumpangi dengan berbagai sesajen.
Setelah itu setiap warga
saling membasahi warga lainnya. Setiap warga yang keluar dari rumah untuk
sekedar ke warung atau jalan-jalan pasti akan basah. Dulu, untuk belimbur warga
menggunakan air apa saja, namun kini panitia festival Erau membuat aturan bahwa
air yang digunakan untuk Berlimbur haruslah air bersih. Karena arti dari
Berlimbur hakikatnya adalah membersihkan diri dari pengaruh jahat sehingga
kembali suci dan menambah semangat dalam membangun daerah.
Pada tahun 2010, pembukaan Erau
yang bertempat di stadion Aji Imbut dihadiri oleh bapak Presiden kita Susilo
Bamban Yudhoyono (SBY) dan wakil presiden Boediono. Penyambutan Presiden dan
wakil presiden dalam acara tersebut dilakukan secara tertutup guna menciptakan
suasana yang hikmat dan tidak terganggu dengan suara kebisingan penonton
lainnya.
Tahun 2013 menjadi penanda
baru bagi pelestarian budaya Kutai Kartanegara. Mengapa demikian, karena untuk
pertama kalinya, di tahun ini festival Erau disandingkan dengan budaya-budaya
tradisional dari berbagai negara. Berbagai kesenian dan tradisi budaya warisan
kutai bersanding dengan warisan budaya dunia dari belahan penjuru dunia. Dalam
konteks inilah, Erau memperkenalkan peninggalan kearifan budaya lokal
masyarakat kutai kepada dunia. Para delegasi dari berbagai negara diundang
untuk ikut terlibat dalam berbagai ritual adat yang berlangsung selama
pelaksanaan Erau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar