Pages

Jumat, 20 Oktober 2017

Pesta Rakyat Sanak Kutai, “ERAU”



Setiap tahunnya, sanak kutai mengadakan festival budaya yang biasa dikenal dengan sebutan Erau (sanak: warga; bahasa kutai). Festival ini berlangsung tepatnya di kota Tenggarong, kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Lazimnya Erau dilaksanakan pada pertengahan bulan juli.

Istilah “Erau” berasal dari kata “eroh” yang dalam bahasa melayu Kutai Tenggarong bermakna ramai, riuh, ribut, suasana sukacita, suasana yang ramai, keramaian pesta ria. Makna riuh tersebut berarti banyaknya kegiatan sekelompok orang yang memiliki hajat yang bermakna sakral, ritual, maupun hiburan. secara umum Erau dapat diartikan sebagai pesta rakyat. 

Dahulu, Erau merupakan hajatan besar bagi kesultanan kutai dan masyarakat di seluruh wilayah kekuasaannya yang mayoritas kini menempati wilayah Kalimantan Timur. Erau bermula sejak abad ke-12 dan pertama kali dilaksanakan pada upacara Tijak Tanah dan mandi ke Tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia 5 tahun Masehi. Setelah dewasa, Ia diangkat menjadi sultan pertama Kutai Kartanegara. Sejak itulah Erau selalu diadakaan setiap pergantian atau penobatan raja-raja Kutai Kartanegara. 

Pada awalnya, acara ini berlangsung selama 40 hari 40 malam dan diikuti oleh seluruh masyarakat Kutai. Tetapi, setelah bergabungnya kesultanan kutai ke dalam wilayah Indonesia pada tahun 1960, pelaksanaan Erau sesuai tata cara kesultanan Kutai terakhir kali berlangsung pada tahun 1965. Hal ini terjadi karena kepala pemerintahan sudah dipegang oleh bupati yang menunjukkan bahwa segala kebijakan daerah dibuat dan diatur sesuai dengan prinsip-prinsip pemerintahan yang tidak hanya mementingkan kebudayaan daerah itu sendiri.

Erau baru diadakan kembali pada tahun 1971 atas prakarsa Bupati Kutai saat itu yaitu Drs.H.Achmad Dahlan dengan tujuan untuk pelestarian budaya. Pada saat ini, upacara Erau dilaksanakan setiap 2 tahun sekali dalam rangka peringatan ulang tahun kota Tenggarong yang berdiri sejak 29 september 1782. Seiring berjalannya waktu, adat Erau dijadikan sebuah festival yang diadakan setiap tahunnya sebagai pesta budaya.

Acara-acara yang dilaksanakan dalam festival Erau sangat beragam. Mulai dari upacara-upacara adat kesultanan Kutai Kartanegara, pertunjukan seni dan budaya dari berbagai daerah di Kalimantan Timur, lomba-lomba olahraga tradisional seperti lomba perahu naga, perahu motor, dan lain sebagainya, expo, maupun pesta rakyat. Adapun upacara adat yang biasaya dipertunjukkan dalam festival Erau adalah sebagai berikut:

1. Upacara Adat Beluluh Sultan 
2. Upacara Menjamu Benua 
3. Upacara Adat Merangin 
4. Upacara Adat Mendirikan Ayu 
5. Upacara Adat Bepelas
 
Festival Erau ini biasanya dilaksanakan selama dua minggu. Tempat yang digunakan yaitu stadion lama (Rondo Demang) Tenggarong ataupun stadion baru (Aji Imbut) Tenggarong seberang. Selain pertunjukan budaya kutai, Erau juga menampilkan budaya dari daerah bahkan negara lain, sehingga Erau memiliki daya tarik hingga ke mancanegara. 

Acara puncak dari festival Erau adalah Berlimbur, berlangsung pada hari terakhir festival Erau. Belimbur yaitu saling membasahi warga yang ada di Kota Tenggarong. Prosesi pertama dari Berlimbur adalah menurunkan “Naga” atau Ngulur Naga ke sungai Mahakam. Masyarakat kutai percaya bahwa pulau yang ada di tengah sungai mahakam yang dikenal dengan Pulau Kumala itu ditopang oleh seekor Naga sehingga setiap tahunnya masyarakat kutai harus menghormati naga tersebut dengan menurunkan “Naga” yang terbuat dari bambu dan sudah ditumpangi dengan berbagai sesajen. 

Setelah itu setiap warga saling membasahi warga lainnya. Setiap warga yang keluar dari rumah untuk sekedar ke warung atau jalan-jalan pasti akan basah. Dulu, untuk belimbur warga menggunakan air apa saja, namun kini panitia festival Erau membuat aturan bahwa air yang digunakan untuk Berlimbur haruslah air bersih. Karena arti dari Berlimbur hakikatnya adalah membersihkan diri dari pengaruh jahat sehingga kembali suci dan menambah semangat dalam membangun daerah.

Pada tahun 2010, pembukaan Erau yang bertempat di stadion Aji Imbut dihadiri oleh bapak Presiden kita Susilo Bamban Yudhoyono (SBY) dan wakil presiden Boediono. Penyambutan Presiden dan wakil presiden dalam acara tersebut dilakukan secara tertutup guna menciptakan suasana yang hikmat dan tidak terganggu dengan suara kebisingan penonton lainnya.

Tahun 2013 menjadi penanda baru bagi pelestarian budaya Kutai Kartanegara. Mengapa demikian, karena untuk pertama kalinya, di tahun ini festival Erau disandingkan dengan budaya-budaya tradisional dari berbagai negara. Berbagai kesenian dan tradisi budaya warisan kutai bersanding dengan warisan budaya dunia dari belahan penjuru dunia. Dalam konteks inilah, Erau memperkenalkan peninggalan kearifan budaya lokal masyarakat kutai kepada dunia. Para delegasi dari berbagai negara diundang untuk ikut terlibat dalam berbagai ritual adat yang berlangsung selama pelaksanaan Erau.

 
sumber 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About