Pages

Minggu, 05 November 2017

MENJAMU BENUA, RITUAL PENYONGSONG FESTIVAL ERAU




Sebelum Festival Erau dimulai, ada ritual-ritual yang perlu dilakukan oleh pihak kesultanan, ritual ini tentunya dilakukan karna ada maksut tertentu. Salah satunya adalah Menjamu Benua. Ritual ini dilakukan beberapa hari menjelang Festival Erau dimulai, tepatnya 4 hari sebelumnya. Ritual ini dilakukan tersebar di beberapa tempat di kota Tenggarong. Tujuan dari Ritual Menjamu Benua adalah untuk memberitahu alam gaib bahwa sultan mereka sudah memutuskan untuk menyelenggarakan Festival Erau dan juga telah menentukan waktu pelaksanaannya. Ritual ini dilakukan guna memohon keselamatan dan kelancaran selama acara berlangsung, baik keselamatan sultan, kerabat, masyarakat Kutai Kartanegara serta wisatawan yang berkunjung ke Tenggarong. Dengan adanya Menjamu Benua, masyarakat berharap agar mahluk halus tidak mengganggu saat penyelenggaraan acara.

Ritual Menjamu Benua ini dilakukan oleh rombongan yang terdiri dari 7 orang Belian (ahli mantra laki), 7 orang Dewa (ahli mantra perempuan), 7 orang pangkon bini dan juga 7 orang pangkon laki. Penabuh gendang dan pemain gamelan juga mengiringi proses berlangsungnya ritual ini. Rombongan ini membawa sesajian yang akan diletakkan di tiga titik, yaitu Kepala Benua (Kelurahan Mangkurawang), Tengah Benua (depan keraton), dan Buntut Benua (Kelurahan Timbau). Selain itu, para dewa dan belian juga membawa pakaian Sultan sebagai pengganti kehadiran Sultan secara fisik sepanjang ritual ini diadakan. Ketiga titik yang dijadikan tempat peletakan sesajian melambangkan batas dan pusat dari Kota Tenggarong yang pada masa lalu menjadi ibukota dari Kesultanan Kutai. Kepala Benua merupakan titik paling utara (hulu) dari Tenggarong, Tengah benua merupakan simbol pusat dari wilayah Tenggarong, sementara Buntut Benua melambangkan sisi paling selatan (hilir) dari wilayah Tenggarong.

Ritual dimulai di kediaman Sultan. Di tempat ini, rombongan memohon restu dari Sultan untuk berangkat melaksanakan Menjamu Benua. Dari kediaman Sultan, rombongan menuju ke tiga titik yang telah ditentukan. Ketika sampai di setiap titik, sesajian akan diletakkan di tempat yang telah ditentukan, yaitu disediakan semacam balai utama berbentuk kerucut dengan atasnya dasar segi empat yang terbuat dari bambu dan rangkaian janur kuning. Adapun isi dari sesajen yang dibawa adalah aneka jajanan pasar (terdiri dari 41 jenis kue basah), nasi tambak, nasi ragi, ayam panggang, mandau, air minum, serta peduduk.

Setelah semua sesajian siap, dewa akan menghadap ke sungai Mahakam untuk membacakan mantra-mantra (memang) dan membaca doa sambil sesekali menebarkan beras kuning, bunga, dan lainnya (besawai). Setelah itu, rombongan meuju ke Tengah Benua dan terakhir ke Buntut Benua dengan pelaksanaan ritual yang sama. Tetapi di Buntut Benua terdapat perbedaan ritual, yaitu di tempat ini, disediakan dua buah telasak gantung yang dipasang berlawanan arah dan hiasan janur yang diikat simpul sebagai pertanda ritual Menjamu Benua telah selesai. Setelah selesai melakukan ritual di tiga titik, rombongan kembali ke kediaman Sultan untuk melaporkan bahwa ritual telah selesai.

 
sumber
sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About